Satu set ansambel Gambang Kromong terdiri dari deretan alat musik tradisional yang masing-masing memiliki peran teknis tersendiri. Gambang Kromong memakai tangga nada Pentatonis (5 nada) khas Tionghoa, yang disebut juga dengan istilah Salendro Cina atau Mandalungan.
Alat pemukul atau tabuh dimainkan menggunakan dua buah tabuh di tangan kanan dan kiri. Gagang tabuh terbuat dari kayu dan tanduk kerbau yang lentur, dengan ujung pemukul berbentuk bulat berlapis kain atau karet. Teknik memukul gambang membutuhkan kombinasi dua teknik utama. Pertama yaitu teknik Gembyang, sebuah teknik memukul dua bilah nada yang sama secara bersamaan pada oktaf yang berbeda. Yang kedua yaitu Pipilan, teknik memukul bilah nada secara bergantian satu per satu menggunakan tangan kanan dan kiri untuk menciptakan alur melodi.
Gambang Besi
Varian modern dari gambang yang mulai diintegrasikan ke dalam orkes Gambang Kromong untuk memperkaya variasi warna suara. Terbuat dari bilah-bilah logam besi. Menghasilkan bunyi nada yang lebih terang, tajam, dan memiliki resonansi panjang.
Gambang Kayu
Selain Gambang Besi, ada juga Gambang Kayu, alat musik pukul yang umumnya terdiri atas banyak bilah kayu khusus yang disusun di atas sebuah kotak resonansi berbentuk mirip perahu. Bilah kayunya berkualitas tinggi (seperti kayu nangka). Menghasilkan bunyi nada kering namun hangat dan ritmis.
Kromong
Deretan sepuluh pencon logam kecil dari perunggu yang diwarisi dari tradisi gamelan Jawa dan Tionghoa sejak abad ke-19 di Batavia. Ditempatkan di rak kayu berukir yang disebut rancakan. Menghasilkan bunyi nada pentatonis (slendro/pelog) yang melodius dan ritmis sebagai kerangka lagu.
Kecrek
Instrumen perkusi pukul tradisional khas Gambang Kromong yang lahir dari akulturasi seni lokal dan peranakan Tionghoa. Terbuat dari lempengan logam tipis bertumpuk di atas bilah kayu. Menghasilkan bunyi nada tinggi, nyaring, dan tajam sebagai penjaga tempo.
Gendang
Gendang atau Kendang tradisional Nusantara dua muka kulit yang berfungsi sebagai pengatur dinamika dan tempo permainan orkes. Terbuat dari kayu nangka dan kulit hewan (sapi/kambing). Menghasilkan bunyi nada rendah (dung) dan tinggi (tak).
Kempul
Gong gantung berukuran sedang yang diadopsi dari gamelan Jawa untuk mempertegas aksen musikal Betawi klasik. Dibuat dari logam perunggu atau kuningan. Menghasilkan bunyi nada rendah yang bergaung untuk menandai akhir kalimat lagu.
Gong
Instrumen gantung terbesar dalam ensembel yang berakar dari kebudayaan Nusantara kuno dan tetap dipertahankan hingga kini. Terbuat dari perunggu tempa berat. Menghasilkan bunyi nada paling rendah dan berwibawa untuk menandai siklus lagu terbesar.
Tehyan, Kongahyan dan Sukong
Alat musik gesek dua senar yang dibawa masyarakat Tionghoa ratusan tahun lalu. Terbuat dari kayu jati, batok kelapa, dan senar usus atau nilon. Menghasilkan bunyi nada mendayu khas oriental. Tehyan menghasilkan nada sedang, Kongahyan nada tinggi, dan Sukong menghasilkan nada rendah.
Rebana
Instrumen pukul satu muka yang masuk melalui pengaruh kebudayaan Islam dan melebur dalam orkes Betawi. Terbuat dari kayu dan kulit kambing. Menghasilkan bunyi nada ketukan kering yang meramaikan ritme dasar lagu dan menjaga tempo bersama gendang dan kecrek.
Tamborin
Alat musik pukul berkerincingan logam yang diadopsi dari kebudayaan Barat melalui interaksi kolonial di Batavia. Terbuat dari bingkai kayu / plastik dengan jenset logam. Menghasilkan bunyi nada gemerincing ceria untuk mempermanis ketukan.





